'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Rekrutmen Kader Komunitas TB-HIV 'Aisyah di Kalimantan Barat
30 Januari 2017 21:43 WIB | dibaca 1603
 
Gambar 1. Rapat Rekrutmen Kader Komunitas TB-HIV
 
TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kalimantan Barat menyelenggarakan rekrutmen dan pelatihan kader TB-HIV komunitas yang serentak digelar di 4 daerah yakni, di Kota Pontianak, Kabupaten Mempawah, Kabupaten Sanggau, dan Kota Singkawang. Kegiatan tersebut merupakan tahap awal dari kegiatan penganggulangan TB-HIV yang dilaksanakan ‘Aisyiyah Kalimantan Barat bekerja sama dengan Global Fund (GF).
 
Kegiatan rekrutmen dilaksanakan mulai tanggal 26-31 Januari 2017. Kegiatan rekrutmen ini dilaksanakan di masing-masing kabupaten/ kota, tepatnya di sekretariat SSR (sub sub recipient) TB-HIV ‘Aisyiyah, dengan melibatkan sejumlah unsur masyarakat dan pemerintah. Sementara kegiatan pelatihan akan dilaksanakan pada awal bulan Februari 2017. 
 
Pada proses rekrutmen setiap SSR (sub sub recipient) TB-HIV ‘Aisyiyah mengundang perwakilan pemerintah daerah, dalam hal ini pemerintah kecamatan; dinas kesehatan, dalam hal ini puskesmas; serta organisasi kemasyarakatan yang berkegiatan dalam isu yang sama, seperti KPA, Japeti dan PPTI, serta organisasi keagamaan. 
 
Sebagai bentuk kemitraan dalam penanggulangan TB-HIV yang dilakukan oleh 'Aisyiyah, setiap perwakilan organisasi maupun pemerintah diminta untuk menyodorkan sejumlah nama sebagai calon kader untuk diseleksi. Pada tahap pertama akan diseleksi dan dilatih 24 kader komunitas TB di setiap wilayah, yang mewakili tiap komponen masyarakat tersebut. Pada tahun 2017, TB-HIV Care ‘Aisyiyah akan membentuk 48 kader untuk setiap wilayah program.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, dr. Sidiq Handanu, M.Kes., dalam kesempatan rapat rekrutmen kader TB komunitas di Kota Pontianak menyatakan bahwa di tahun 2016 cakupan penemuan pasien TB baru oleh Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencapai 70%. Diharapakan dengan terliabtnya 'Aisyiyah dalam program TB-HIV mampu meningkatkan keberhaslannya kedepan. 
 
Kemudian beliau menyampaikan hal terpenting dari penemuan aktif terduga TB adalah strategi penemuannya. Kader harus memahami sebaran kasus di wilayah. Beliau melanjutkan bahwa ada sejumlah faktor yang mempengaruhi insiden dan prevalensi TB paru. Insiden TB Paru dipengaruhi oleh kondisi rumah, status gizi dan perilaku. Banyak penderita TB ditemukan di pemukiman dengan rumah tanpa jendela (ed. pemukiman kumuh). Selain itu juga dipengaruhi oleh status gizi dan perilaku tidak sehat, seperti perilaku merokok (ed. dan paparan asap rokok). 
 
Selanjutnya faktor yang mempengaruhi prevalensi TB paru menurut beliau adalah kepatuhan yang rendah. Pasien TB yang tidak patuh dalam proses pengobatan selama 6 bulan akan menurunkan angka kesembuhan. Untuk itu perlu upaya intervensi yang komprehensif meliputi upaya medis, ekonomi, budaya dan infrastruktur.
 
(*AKMS SR TB-HIV "AISYIYAH KALBAR)
Shared Post: