'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Bagaimana TB-HIV Care Aisyiyah menemukan terduga TB?
28 Februari 2017 19:04 WIB | dibaca 841

 

Penemuan pasien TB, secara umum dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. Pelibatan semua layanan dimaksudkan untuk mempercepat penemuan dan mengurangi keterlambatan pengobatan.

Mengingat pelayanan kesehatan pemerintah umumnya mengguankan strategi penemuan pasif, maka Aisyiyah melalui program TB-HIV Care  menggunakan strategi penemuan secara aktif pada masyarakat umum. Harapannya melalui strategi ini dapat meningkatkan penemuan terduga TB. Penemuan secara aktif dapat dilakukan terhadap

a.     Kelompok khusus yang rentan atau beresiko tinggi sakit TB seperti pada pasien dengan HIV (orang dengan HIV AIDS),

b.     Kelompok yang rentan tertular TB seperti di rumah tahanan, lembaga pemasyarakatan (para narapidana), mereka yang hidup pada daerah kumuh, serta keluarga atau kontak pasien TB, terutama mereka yang dengan TB BTA positif.

c.     Pemeriksaan terhadap anak dibawah lima tahun pada keluarga TB harus dilakukan untuk menentukan tindak lanjut apakah diperlukan pengobatan TB atau pegobatan pencegahan.

d.     Kontak dengan pasien TB resistan obat

Penemuan dilakukan dengan menjaring mereka yang memiliki gejala:

a.     Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.

b.    Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke Fasyankes dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

c.     Suspek TB MDR adalah semua orang yang mempunyai gejala TB dengan salah satu atau lebih kriteria suspek dibawah ini:

1)     Pasien TB yang gagal pengobatan kategori 2 (kasus kronik)

2)     Pasien TB tidak konversi pada pengobatan kategori 2.

3)     Pasien TB dengan riwayat pengobatan TB di fasyankes Non DOTS.

4)     Pasien TB gagal pengobatan kategori 1.

5)     Pasien TB tidak konversi setelah pemberian sisipan.

6)     Pasien TB kambuh.

7)     Pasien TB yang kembali berobat setelai lalai/default.

8)     Pasien TB dengan riwayat kontak erat pasien TB MDR

9)     ODHA dengan gejala TB-HIV.

Sumber: Panduan TB Nasional

Shared Post: